Di tengah persaingan ketat para inovator muda tanah air, Thursina International Islamic Boarding School (IIBS) kembali menegaskan posisinya sebagai inkubator para calon pemimpin dunia yang berakal budi luhur dan berwawasan luas. Melalui pencapaian luar biasa di kancah nasional, tiga santri kelas 11 yang tergabung dalam Tim "Si Gatot" yaitu Faiz Muhammad, Arkan Galih, dan Afif Hibrizi, berhasil mengamankan gelar kehormatan sebagai 3rd Place Winner dalam ajang bergengsi Petra Civil Expo (PCE) 2026 Bridge Competition tingkat nasional.
Kompetisi rancang bangun jembatan berskala nasional ini diselenggarakan oleh Petra Christian University, Surabaya, dengan mengusung tema visioner: “Empowering Sustainable Infrastructure Through Engineering Excellence.” Bagi Thursina IIBS, pencapaian ini bukan sekadar kemenangan di atas kertas, melainkan manifestasi nyata dari komitmen sekolah dalam membekali para santri dengan cross-cultural mindset dan kapasitas berpikir kelas dunia yang dibutuhkan oleh seorang global citizen.
Ajang Petra Civil Expo dikenal memiliki standar penilaian yang sangat ketat dan elegan, menguji kedalaman analisis para peserta dalam aspek desain estetika, efisiensi penggunaan material, hingga kalkulasi kekuatan beban jembatan yang presisi. Sejak babak eliminasi awal, Tim Si Gatot telah menunjukkan kelasnya dengan menduduki peringkat pertama nasional. Kualitas cetak biru (blueprint) dan perencanaan struktur yang mereka tawarkan berhasil menarik perhatian dewan juri, membuktikan bahwa bekal pembelajaran sains serta kurikulum berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di Thursina dirancang untuk melahirkan pemikiran-pemikiran yang kokoh dan berdaya saing global.
Namun, ujian sesungguhnya dari sebuah karakter yang mulia poise under pressure diuji langsung di atas arena kompetisi saat tahap konstruksi final berlangsung. Proses perakitan jembatan tidak berjalan tanpa hambatan. Di tengah batas waktu yang kian menyempit, Tim Si Gatot dihadapkan pada kendala teknis krusial yang mengharuskan mereka membongkar sebagian struktur jembatan yang telah setengah jadi dan merakitnya kembali dari awal. Di bawah bayang-bayang pesimisme dan ketegangan tinggi, ketiganya memilih untuk tidak goyah. Mereka menunjukkan ketenangan khas para pemimpin masa depan, berkolaborasi dengan anggun, dan fokus sepenuhnya pada penyelesaian struktur terbaik.
Pembina Tim, Ustadz Helmi Pakas Rivai, M.Pd., menyampaikan apresiasi mendalam atas ketangguhan mental yang ditunjukkan oleh anak didiknya selama proses krusial tersebut. "Prestasi yang diraih oleh Faiz, Arkan, dan Afif hari ini adalah kristalisasi dari proses belajar yang panjang, ketekunan tanpa batas, serta keberanian tinggi untuk mengevaluasi diri dari setiap kegagalan masa lalu," ujar Ustadz Helmi saat memberikan keterangan resmi pasca-kompetisi.
Secara tidak langsung, Ustadz Helmi juga menekankan bahwa kematangan performa anak-anak asuhannya terbentuk berkat rekam jejak kompetisi sebelumnya, seperti peringkat ke-6 di Bridge Construction Competition Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) serta partisipasi berharga mereka di Universitas Muhammadiyah Jember. Beliau menambahkan bahwa akumulasi pengalaman inilah yang membentuk mentalitas tangguh dan kesiapan mereka untuk menerima international exposure yang lebih luas di masa mendatang.
Senada dengan sang pembina, perwakilan dari Tim Si Gatot mengakui bahwa momen-momen kritis di meja perlombaan sempat mengguncang rasa percaya diri mereka. "Kami sempat pesimis karena ada bagian krusial jembatan yang harus dibongkar total di sela-sela waktu lomba. Namun, kami memilih untuk saling percaya, menjaga fokus, dan memberikan ikhtiar terbaik kami hingga detik terakhir," ungkap Faiz Muhammad mewakili rekan-rekannya.






